Kamis, 07 Agustus 2008

OECD: Ekonomi Indonesia Membaik

Dikutip dari Harian Jurnal Nasional, Jakarta Jum'at, 25 Jul 2008 by : Yeffri Yundiarto Prahadi

Perekonomian Indonesia pascakrisis ekonomi 1997-1998 terus bertumbuh dengan tingkat rata-rata sekitar 5,25 persen sejak 2004. Kenyataan ini termuat dalam rangkuman hasil penilaian ekonomi Indonesia oleh Organisasi Kerja Sama Ekonomi dad Pembangunan (OECD).
Meski belum setinggi negara-negara berkembang di kawasan, pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu mengangkat standar hidup masyarakat. Hal itu terlihat dari konsumsi masyarakat yang terus menunjukkan tren meningkat.
OECD menyebutkan, investasi mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan meskipun masih rendah bila dibandingkan dengan Produk Domestik Bruto (PDB). Kinerja ekspor masih baik dengan ditopang kenaikan harga komoditas.
“Momentum perekonomian untuk ekspansi ada di tahun 2008-2009 dengan pertumbuhan di atas 6 persen per tahun,” kata Sekretaris Jenderal OECD Angel Gurria di Jakarta, Kamis (24/7).
Ia menyarankan pemerintah mendorong percepatan ekonomi untuk mengurangi angka kemiskinan. Jumlah penduduk miskin di Indonesia tergolong tinggi yaitu 34,96 juta orang sampai Maret 2008. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkualitas harus dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Salah satu caranya adalah mendorong masuknya investasi baru, baik lokal maupun asing. Investasi menjadi senjata ampuh China dan India dalam mempercepat pertumbuhan ekonominya. Namun, minimnya infrastruktur menjadi penghambat utama masuknya investasi baru.
Gurria mengatakan, pemerintah harus memiliki kebijakan fiskal yang jelas untuk meningkatkan belanja modal khusus untuk pembangunan infrastruktur penting, seperti jalan, Bandar udara, pelabuhan, sarana air bersih, dan pembangkit energi listrik. Pemerintah harus melibatkan swasta dalam pembangunan infrastruktur.
“Regulasi yang mengurangi ketidakpastian harus dikurangi terutama yang terkait dengan harga. Adanya subsidi membuat investor sulit mengukur tingkat pengembalian suatu proyek infrastruktur,” ujar dia.
Program otonomi daerah seharusnya mendorong pemerintah daerah memajukan wilayahnya. Layanan investasi di satu pintu, mulai dari pendaftaran, perizinan, dan lainnya, akan memudahkan investor menanamkan dananya. Pemerintah pusat maupun daerah harus terus berupaya menyederhanakan regulasi usaha di daerah agar iklim investasi kondusif.

Melambat
Kepala Ekonom Bank Mandiri Tbk Martin Panggabean menyarankan pemerintah mewaspadai perlambatan ekonomi seiring melambatnya perekonomian global. Inflasi yang tinggi juga akan menekan perekonomian bila Bank Indonesia terus menaikkan suku bunga acuan (BI rate).
Menurut dia, perlambatan ekonomi dapat ditekan dengan menggenjot ekspor seiring kenaikan harga komoditas dunia, seperti minyak sawit mentah, kertas (pulp), dan karet. Pemerintah harus segera memperluas pasar ekspor dan tidak bergantung kepada negara-negara maju, seperti Jepang dan Amerika Serikat.

[Kembali]

9 Pertanyaan untuk Kishore Mahbubani: "Kebangkitan Asia Menakjubkan"

Dikutip dari Harian Jurnal Nasional, Jakarta Selasa, 05 Agt 2008
by : Rizky Andriati Pohan


ASIA akan kembali merebut kebangkitannya, cepat atau lambat. Demikian kesimpulan yang disampaikan Kishore Mahbubani, mantan Diplomat Singapura yang lebih dari 30 tahun menyelami dunia diplomasi. Selain mengajar dan menjadi Dekan di Lee Kuan Yew School of Public Policy, Kishore aktif menulis berbagai artikel di sejumlah media internasional seperti Foreign Affair, Foreign Policy, The Washington Quarterly, Time, Newsweek, dan New York Times.
Dia juga menulis sejumlah buku antara lain; The New Asian Hemisphere: The Irresistible Shift of Power to the East, Can Asians Think? Understanding the Divide Between East and West, Beyond the Age of Innocence: Rebuilding Trust between America and the World. Berikut pandangan dan analisis Kishore yang disampaikannya saat datang ke Jakarta beberapa waktu lalu.

1.Bagaimana penjelasan Anda mengenai kebangkitan Asia?
Saya lahir dan besar di Singapura. Singapura sendiri baru merdeka pada 1965. Ketika itu kondisi Singapura tak ubahnya seperti Ghana. Kemiskinan di mana-mana. Tetapi, Singapura terus berkembang seperti sekarang ini. Banyak negara Asia yang mengalami cerita seperti ini. Saya percaya Asia akan menjadi pahlawan dan cerita kepahlawanan tentang dominasi Barat akan berakhir. Tetapi, bukan berarti Barat akan runtuh. Barat tetap memiliki dan menjadi peradaban besar.
China dan India pernah memiliki sejarah dan peradaban besar. Sejak abad pertama hingga 1820, perekonomian terbesar dipegang China dan India. Indonesia juga pernah memiliki imperialisme besar pada masa Sriwijaya dan Majapahit. Dengan kesuksesan masa lalu, kebangkitan Asia akan segera kembali. Memang banyak orang Asia yang tidak percaya bahwa Asia akan besar dan bangkit. Sebenarnya kita pernah melewati kebangkitan itu dan bisa mengembalikannya. Goldman Sachs memprediksi pada 2050 China, India, Amerika, dan Jepang, akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Kita bisa melihat bahwa tiga negara tersebut merupakan negara Asia.
Asia melakukan banyak perubahan dan perubahan yang terjadi begitu menakjubkan. Apa yang dialami Asia saat ini tak berbeda ketika Barat mengalami revolusi industri. Pada masa itu Barat mengalami peningkatan kesejahteraan mencapai 50 persen. Namun, apa yang terjadi, saat ini peningkatan kesejahteraan di Asia melampaui Barat, mencapai seribu persen. Angka itu besar sekali. Hal ini benar-benar terjadi dan harus selalu diingat. Asia tidak pernah menunggu untuk belajar. Asia belajar dengan cepat.

2. Apa yang membuat Asia bangkit?
Karena Asia mengadopsi yang saya sebut tujuh pilar kebijaksanaan Barat. Pertama, pasar bebas. China adalah negara yang sangat sukses menerapkan pasar bebas. Karena pasar bebas, China berkembang begitu pesat dalam 30 tahun terakhir. Kedua, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Eropa bisa menjadi penjelajah dan menjajah banyak bangsa karena mereka berhasil menguasai teknologi. Yang menakjubkan saat ini, Asia menguasai teknologi. Sekitar 85-90 persen teknisi di dunia ini adalah orang Asia. Di universitas Amerika, kebanyakan penerima gelar Phd adalah orang Asia. Mereka bernama Tan, Wang atau Khapoor. Hanya satu atau dua orang saja yang memiliki nama Anglo Saxon, semisal David. Ini adalah ilustrasi yang terjadi saat ini, sekaligus kekuatan Asia.
Ketiga, pragmatisme. Konsepnya kucing putih ataupun kucing hitam sama saja, mereka semua adalah kucing. China adalah salah satu negara Asia yang pragmatik. China sendiri menjadi pragmatik setelah melihat India. China berinvestasi di sebuah negara tanpa melihat ideologi negara tersebut. Jepang pun sudah melakukan itu puluhan tahun lalu. Keempat, mitokrasi atau pencarian talenta dari berbagai lapisan masyarakat. Brasil adalah salah satu negara yang secara konsisten menjadi pemenang bola, meski perekonomiannya biasa-biasa saja. Hal ini terjadi karena mereka mencari bakat-bakat pemain bola di 200 juta rakyatnya, dari berbagai lapisan, dari yang terendah, menengah, dan teratas.
Asia melakukan hal itu. Sedangkan Barat tidak. India adalah negara Asia yang menerapkan konsep mitokrasi. Sejak ribuan tahun lalu, masyarakat India terbagi atas berbagai kasta. Dengan reformasi besar-besaran dan revolusi sosial, India mengalami banyak perubahan dan semua orang bisa pergi ke sekolah. Orang pintar di India bisa ditemukan dari berbagai kalangan. Kelima, budaya damai. Keenam, penegakan hukum. Ketujuh, pendidikan. Asia merupakan gudang jutaan otak yang belum dipakai. Satu-satunya cara untuk memanfaatkan itu adalah menegakkan pendidikan dan mendirikan sekolah serta universitas. China berkembang karena menginvestasi banyak uang di bidang pendidikan. Kota Guangzhou merupakan kota terkecil di China dan tentu saja di dunia. Namun, kota itu merupakan kota satelit universitas. Sekitar 30 juta orang di China mendapatkan Phd setiap tahun. Bila melihat Amerika, puluhan juta orang India dan China datang ke Amerika untuk sekolah dan mereka kembali ke negara masing-masing setelah lulus.

3. Orang tua Anda berimigrasi dari India ke Singapura, bagaimana masa kecil Anda sebagai anak imigran?
Sejujurnya saya melewati masa lalu yang berat saat masih anak-anak. Ketika saya berusia enam tahun saat masuk sekolah pertama kali, pihak sekolah menimbang berat badan saya dan ternyata saya mengalami gizi buruk. Karena keluarga saya sangat miskin. Bahkan, kami harus menerima jaminan kesejahteran dari pemerintah. Namun, cek kesejahteraan itu tidak cukup.
Ketika itu saya mengikuti program pengayaan nutrisi di sekolah. Saya datang ke kantor kepala sekolah untuk menerima paket susu. Kepala sekolah mengambil sesendok susu dari sebuah baskom dan menyuapi kepada anak yang mengalami kekurangan gizi. Saat itu Singapura masih mengalami kemiskinan. Kenyataannya saat ini Singapura berhasil menghapuskan kemiskinan dan hal ini sangat mengagumkan.

4. Konon ayah Anda juga pernah dipenjara?
Ayah saya dipenjara karena sering mabuk-mabukan dan berjudi. Tetapi, hubungan saya dengan orang tua tetap baik. Ibu dan ayah saya sudah meninggal. Poin terpenting dari masa anak-anak saya adalah apa pun hambatan yang dihadapi seorang anak pada masa kecil, dia masih bisa sukses dengan pendidikan dan beasiswa. Saya beruntung karena bisa mendapatkan beasiswa. Itulah mengapa saya sukses.

5. Anda belajar filsafat di kampus, tetapi kemudian menjadi Diplomat. Apakah itu sebuah ‘kecelakaan'?
Bukan ‘kecelakaan', tetapi semua itu terjadi karena saya mendapatkan beasiswa dari pemerintah yang mengikat saya. Ketika itu saya diminta untuk bekerja di kementerian luar negeri. Saya menerimanya dan mengatakan akan bekerja di sana selama dua tahun. Tetapi, kenyataannya saya bekerja di kementerian luar negeri selama sekitar 33 tahun. Dari sana, saya mengetahui bahwa dunia diplomasi sangat menarik dan menantang. Saya pun belajar untuk mencintainya. Sekarang ini saya bisa menulis banyak buku karena belajar banyak dari karier diplomatik.

6. Bagaimana dengan ilmu filsafat yang Anda pelajari di bangku kuliah?
Saya sangat menikmati ilmu filsafat. Karena di dunia filsafat, Anda bisa menanyakan pertanyaan tentang semua hal. Anda menganalisis semua hipotesis. Dan saya rasa cara belajar terbaik adalah dengan mempertanyakan dan menganalisis semua hipotesis. Anda tidak boleh menerima semua hal sebagai sebuah kebenaran. Tetapi, Anda harus benar-benar menganalisisnya.
Apa pun yang dikatakan orang lain, Anda harus mengatakan, mengapa? Mengapa Anda berpikir seperti itu? Karena bahkan negara besar pun pernah melakukan kesalahan besar. Kita harus belajar dari kesalahan orang lain. Saya rasa belajar filsafat mendorong kita untuk bisa melakukan hal itu dan membuka pikiran kita dengan segala kemungkinan. Dengan perubahan-perubahan yang terjadi di dunia ini, kita harus membuka pikiran dengan kemungkinan-kemungkinan baru.
7. Apa yang Anda lakukan saat luang?
Menulis buku. Hobi saya adalah menulis buku dan artikel, lalu mempublikasikannya. Setiap akhir pekan, saya selalu habiskan waktu untuk menulis. Saya juga bermain golf. Golf sangat penting. Golf merupakan satu alasan mengapa kawasan Asia Tenggara selalu hidup dalam kedamaian dan keharmonisan. Karena semua jenderal di negara-negara Asia Tenggara sibuk berkompetisi di lapangan golf. Mereka tidak memiliki waktu untuk berperang dan saling mengangkat senjata. Inilah yang terjadi di Asia.

8. Anda pernah bermain golf di Indonesia?
Ya, di beberapa tempat seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali. Golf di Indonesia sangat menyenangkan dan luar biasa. Indonesia memiliki banyak lapangan golf yang bagus, pemungut bola yang profesional dan orang-orang yang sangat ramah.

9. Saat ini apa harapan terbesar Anda?
Saya ingin mencoba dan melihat apakah saya bisa membantu menjadikan dunia lebih baik. Saya selalu mengatakan bahwa Asia sedang mengalami kebangkitan karena saya ingin negara-negara Asia meniru lebih banyak negara Asia lain yang sudah baik. Meniru itu baik. Jangan pernah berpikir bahwa meniru itu buruk. Maka tirulah hal-hal positif yang sudah dilakukan negara lain. Mengapa China bisa sukses? Mengapa tidak meniru apa yang sudah dilakukan China? Saya mendorong lebih banyak negara Asia untuk mempelajari kesuksesan negara lain.

Indonesia Tak Punya Manajemen Demokrasi yang Baik

Demokrasi
Dikutip dari Harian KOMPAS, Kamis, 7 Agustus 2008 00:52 WIB


Bandung, Kompas - Demokrasi di Indonesia belum menjadi berkah bagi kemajuan kehidupan rakyat, bahkan justru menambah beban mereka. Hal itu bukan dikarenakan sistem yang salah, melainkan manajemen demokrasi yang tidak baik.
Hal itu diungkapkan pengamat politik Eep Saefulloh Fatah dalam diskusi terbatas di Grha Kompas Gramedia, Bandung, pada Selasa (5/8) malam.
Peserta yang hadir ialah para pengamat politik, akademisi, aktivis partai politik, dan penggiat demokrasi di Kota Bandung, antara lain Tjetje Hidayat Padmadinata, Dede Mariana, Asep Warlan Yusuf, Upa Sapari, dan Kang Acil dari Bandung Spirit.
Eep menuturkan, selama sepuluh tahun reformasi, demokrasi berjalan tanpa manajemen yang baik. Akibat yang timbul antara lain ialah biaya demokrasi yang mahal dan ketidakmampuan demokrasi memenuhi hak rakyat.
”Bayangkan saja, dalam setahun, rakyat bisa mengikuti hampir sebelas kali coblosan pemilu, yakni mulai dari pemilihan kepala desa, camat, bupati, gubernur, legislatif tingkat satu dan dua, lalu DPD (Dewan Perwakilan Daerah), dan Presiden,” ujar Eep. Indonesia, kata Eep, rata-rata mengadakan pemilu sepuluh kali dalam sebulan.
Rakyat di satu sisi telah jenuh dan letih menghadapi proses demokrasi yang berlarut-larut, sementara mereka tidak merasakan dampak positif dari penyelenggaraan itu. Kualitas pemilu yang buruk, lanjut Eep, disebabkan oleh tugas Komisi Pemilihan Umum yang makin berat karena KPU kini mengurusi pula pemilihan kepala daerah. ”Wewenang KPU besar, tapi kompetensi mereka masih kecil,” kata Eep.
Muda soal ideologis
Mengenai isu generasi tua dan muda dalam Pemilu 2009, Eep mengungkapkan bahwa usia bukan menjadi jaminan. ”Muda bukan soal biologis, tetapi soal ideologis,” ujarnya. Akan menjadi sia-sia apabila pemimpin berusia muda tampil dengan membawa pandangan-pandangan yang lama.
Meski demikian, Eep menilai demokrasi Indonesia akan kembali memiliki harapan jika yang muncul dari Pemilu 2009 adalah para pembaru dari politisi generasi kedua reformasi. ”Selama ini generasi kedua tidak bisa muncul karena sistem yang tidak mendukung,” ujarnya.
Tjetje Hidayat mengungkapkan, kualitas legislatif terpilih pada Pemilu 2009 nantinya tidak bisa diharapkan karena ada permainan uang di balik pencalonan. Siapa pun calon yang memiliki uang, kata Tjetje, bisa menempati nomor urut teratas.
Praktik tersebut lazim berjalan di dalam mekanisme internal partai politik. ”Saya mungkin akan golput saat memilih calon legislatif karena sudah tahu kebobrokan mekanismenya,” ujar Tjetje.
Adapun solusi untuk buruknya manajemen demokrasi, kata Asep Warlan Yusuf, ialah dengan menyiapkan desain yang jelas tentang arah kehidupan bernegara.(REK)

Senin, 04 Agustus 2008

RI Moving Forward under Crisis

INDONESIAN RISING
Culture of solidarity and mutual cooperation, called gotong royong, supported Indonesian people to deal with any difficulty.
by: Wahyudi Marhaen Pratopo ES, Jurnal Nasional, Jakarta, Monday, August 04, 2008.

The top of McKinley Mountain at 20,320 feet (6,193 meters) became witness of young Indonesian spirit. On Monday, July 9, two Indonesians wrote a history by putting Red and White flag at the top of McKinley in Alaska, United States. They were Pungkas Tri Baruno and Hartman Nugraha, members of Indonesia Bud Expedition to McKinley Alaska and Vinson Massif Antarctica 2008.
Conquering the highest mountain in North America was not an easy job. Members of Indonesia Bud Expedition had to fight against cold weather of the icy mountain. Only two of seven members of the team could reach McKinley’s peak. They needed 18 days to reach the top with many barriers. Pungkas Tri Baruno, one of the expedition members, collapsed on the way down. He was found died at 17,200 feet (5,242 meters).
The tragedy would not stop the Indonesian Bud Expedition to climb Vinson Massive Mountain in Antarctica. “The team is still evaluating the expedition,” said Septembri Yanti, spokesperson of the National Scouting Movement, Pramuka. The scouting organization sponsored the expedition to McKinley and Vinson Massif.
State Minister of Youth and Sports Adhyaksa Dault said, “Pungkas is symbol of spirit of Indonesian youngsters who are not easy to surrender.” To remember the spirit, Adhyaksa will use name of Pungkas Tri Baruno for a library at his office.
Beside Pungkas dan Hartman, there are many other Indonesians who can reach top achievement in various fields. Anies Baswedan, President of Paramadina University Jakarta, is one of top 100 public intellectual in the world, according to the American magazine Foreign Policy. He takes the same position as other world intellectual, including many famous names such as Italian novelist Umberto Eco, former United States Vice President Al Gore, former Singapore Prime Minister Lee Kuan Yew, and Peace Nobel laureate Muhammad Yunus.
In sports, several Indonesian athletes take world championship, such as Chrisjon in boxing, Eko Yuli Irawan in weightlifting, Nova Widianto/Liliana Nasir and Markis Kido/Hendra Setiawan in badminton.
A number of Indonesian students reach gold, silver, and bronze medal in Olympiad of science, mathematic, biology, chemistry, and astronomy. Last month, the Indonesian team got one gold medal, four silver medals, five bronze medals, and two honorable mention awards in the Science Olympiad in Madrid, Spain. Indonesia sits at 36th rank of 97 participant countries.
Success is not a monopoly for youngsters. Many people succeeded to handle difficulties as impact of 1998 financial crisis. Aceh residents have awaked from disaster of tsunami, so do Yogyakarta residents whom rocked by earthquake.
A group of women in Bantul, Yogyakarta, developed home industry by producing various snacks. They can run local economy which paralyzed after the earthquake disaster. Other villagers in Bantul collect rice in rice barn to anticipate food crisis.
As a nation, Indonesia has aroused from multidimensional crisis. After financial and political crisis ousted President Suharto from power in 1998, Indonesia has to surpass transitional period to democracy. The country also faces economic difficulties caused by global energy and food crisis.
Presidential Spokesperson Dino Patti Djalal said, Indonesian always has a great human spirit to pass various challenges, since colonial era, struggle for independent, until present crisis. “The point is, that the more we face crisis, more trial, and turbulence, Indonesian become more resilience and stronger. That is our main asset, a spirit to be better, to do better.”
Anthropologist PM Laksono from Gadjah Mada University Yogyakarta said, culture of solidarity and mutual cooperation, called gotong royong, supported Indonesian people to deal with any difficulty. “Standing hand in hand will strengthen people to finish various problems of the nation,” Laksono told Jurnal Nasional in Yogyakarta.
He hopes the government can build an effective bureaucracy which works seriously with outcome oriented. “It must be reminded that people are struggling, not seeing them just as a mass.”
Denny Indrayana, Chairman of Center for Anticorruption Study, Faculty of Law, Gadjah Mada University, stated that corruption eradication is an important effort to build a better Indonesia. "The spread of corruption in Indonesia needs removal surgery. This is always an analogy for corruption that I really like. It is truly portrays the fact that the God Father needs to be caught."
According to Indrayana, Indonesia needs to complete five primary pillar to fight against corruption. The five pillars are anticorruption constitution, asset recovery constitution, corruption eradication commission, special court for corruption case, and witness protection agency.
In the future, Indrayana is optimistic that the five pillars supported by the people can help the nation from suffering because of the deadly disease, corruption.

Wahyudi M Pratopo/Much Fatchurochman/Syifa Amori

More Turbulence Makes Stronger

INDONESIA RISING
Jakarta Jurnal Nasional, Senin, 04 Agt 2008
by : Wahyudi Marhaen Pratopo ES

The spirit of Indonesian has proved that the nation can solve any challenge since colonial era, struggle for independence, until present economic and energy crises.
Presidential Spokesperson Dino Patti Djalal shared his optimistic view with Wahyudi M Pratopo and Yanuar Jatnika from Jurnal Nasional about the capability of Indonesian people to transform to be better. Here is the excerpt.

In the commemoration of 100 years of national awakening, the government determined “Indonesia Can” as the theme. Can you explain about it?
Talking about awakening, we talk about a spirit. In 1908 when national awaked, there was a new spirit, a different spirit, that at first we can be a nation from a number of ethnic groups. So we can be great nation just like other nation in the world. There was optimistic spirit to change our destiny.
The second meaning, there must be a quality. We can not build our nation if we are burdened or inhibited by cynicism or by negative energy. We must be driven by a can do spirit, can do-ism, a positive energy. You look at all other country in the world, how they reinvented themselves. It started with positive energy. You can look China under Den Xiao Ping or India under Manmohan Singh, Japan under Meiji Restoration. Finland also, after they collapsed, they reinvented by producing Nokia and building IT-based industry. They all start because something difference, and we can do it.
Unfortunately, now in Indonesia, if you look in media, or rhetoric of the politician, there are too much cynicisms, too much people mourned themselves. Believe me, you can not reinvent Indonesia and make Indonesia great nation with culture of cynicism. So, that’s why, team of “Indonesia Bisa” is a powerful one.

What the main capital of this nation so we can be very optimistic?
I think Indonesian always has a great human spirit. You look at how we could be independent. It was one of the most epic and romantic revolution in twenty century. We gain our independence with bloods, tears, and sweats. We show the world we have great spirit to be independent, and then to face turbulence. The point is, that the more we face crisis, more trial, and turbulence, Indonesian become more resilience and stronger. That is our main asset, a spirit to be better, to do better. We want to work hard and transform ourselves to be better.
Many people acknowledged Indonesia’s progress in political sector and democracy, but not for economy.
I disagree with that, because you can look at the indicators. Just now, Secretary General of OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) Angel Guerea met President. In a press conference, he said, “I am surprise in Indonesia that can growth at 6,1-6,2 percent. It is the highest among developing countries which growth around 2 percent at average.”
Our export now is the highest in industry, over US$100 billion. Our debt to GDP ratio is the lowest in history. Our foreign reserve is the highest ever. I think we are now one of the top twenty economies in the world. Our GDP is the highest ever and our GDP per capita also the highest ever. Our stock market is top three performing in Asia. We paid loan to IMF in four years as schedule and we are confidence to disband CGI, the Consultative Group on Indonesia.
We have to think that economically we are doing well. But there is a factor of global economy, factor that beyond our control, that is energy price. Other economy in the world slows down. So, our economy does better and better, but there is international factor that is very difficult.

How about the political sector?
I think our democracy has been said as model of democracy. Why, because we have two election, national and local election. Since 2004, local governments have been transformed because governors and regents or mayors were elected directly. So, democracy is not only at national level but democracy is penetrating into the grass root level in provinces.
Beyond that, in Indonesia democracy, Islam, and modernity go hand in hand together very well. It is our way of life. So, politically we do well. But, the big challenge is to connect democracy and good governance. And also combining democracy and maturity of our society, it is another challenge.

What do you think about leadership in Indonesia, not only executive but also parliament and others?
First, SBY is exceptional leader. He is one of the best presidents in Indonesia. I was with him when he run the government and cabinet, and he is a capable administrator and political leader. But SBY is unable to change Indonesia unless there are also good leaders in all layer, such as in parliament, cabinet, local government, religious leader, civil society, and military. If there is quality leader in each sector, then Indonesia will change.

Do you think other leaders back up the President?
They don’t necessarily need to back up the President, but the need to show leadership quality in their respective sector. Unfortunately, leadership in our culture society is not grown. So, it is difficult to grow a strong leadership culture. We have strong leaders but they don’t grow in a systematic effort. I hope we can see leadership culture emerging in Indonesia.

You have a lot of international experience. Is there any country which has similar problem with Indonesia?
I Think India. Mexico is also close. India is long democracy country and India is multiethnic and has large of population. India also has legacy of colonialism, but it also fights to eradicate poverty. India also faces ethnic conflict, religious issues, and problem of decentralization. So, democratic partnership between India and Indonesia is very important. Sharing experience with India is more relevant than with other countries.

[Kembali]

Demokrasi Belum Dapat Memberikan Kesejahteraan

Dikutip dari Rubrik Politik & Hukum di Harian KOMPAS, Senin, 4 Agustus 2008, halaman 02.
Semarang, Kompas - Demokrasi yang saat ini berlaku di Indonesia hanya berhasil pada tataran proses dan masih belum mampu memberikan manfaat yang substantif, yaitu membaiknya kesejahteraan rakyat.
Demikian disampaikan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Warsito pada Temu Akbar Alumni dan Dies Natalis Ke-42 FISIP Undip, Minggu (3/8) di Semarang, Jawa Tengah. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono (HB) X juga menghadiri acara itu.
Oleh karena demokrasi belum mampu menyejahterakan rakyat, lanjut Warsito, terjadi fenomena menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan. ”Hal itu bisa dilihat dari semakin tingginya angka golongan putih (golput atau orang yang sengaja tak menggunakan hak pilihnya) dalam pemilihan kepala daerah,” ucap Warsito.
Jika terus seperti itu, Warsito menuturkan, dalam proses demokrasi yang terus berkembang di Indonesia, dimungkinkan untuk memunculkan sikap apatis dari rakyat. Bahkan, bisa memicu naiknya penguasa yang bersikap otoritarian.
Sejak reformasi bergulir, Warsito menambahkan, hingga kini Indonesia belum memiliki sistem nilai penyelenggaraan pemerintahan yang mapan. ”Nilai lama mulai dilepaskan, tetapi nilai baru belum terbentuk,” tuturnya.
Strategi kebudayaan
Sebaliknya, Sultan HB X menegaskan, tidak ada jalan lain untuk membangun sebuah kultur demokratis di Indonesia selain dengan menggelar strategi kebudayaan. ”Konkretnya, membangun sistem pendidikan yang menjadi prinsip kemandirian dan nalar publik sebagai pijakan konseptual,” kata dia.
Sistem pendidikan ini, lanjut Sultan HB X, berfokus pada penciptaan individu yang otonom dan kritis dalam daya pertimbangan. ”Otonom di sini bukan berarti egosentris dari pemerintahan yang ada,” ucapnya.
Menurut Sultan, dalam kehidupan politik sehari-hari, biaya dan manfaat tidak selalu hadir dalam bentuk fisik dan material, tetapi juga dapat diurai dalam bentuk nilai simbolik, seperti kepercayaan, stabilitas, solidaritas, serta loyalitas.
Sultan HB X juga menuturkan, kondisi negara sekarang ini membutuhkan prioritas untuk dilakukan perbaikan pada aspek seperti penyediaan pangan, pendidikan, dan kesehatan. ”Hal itu adalah faktor utama untuk membangun bangsa,” ucapnya. Tanpa itu, rakyat bisa semakin tak percaya pada demokrasi. (ilo)

[Kembali]

Indonesia Kembali dalam "Radar Screen"

ANALISIS EKONOMI
Oleh MUHAMMAD CHATIB BASRI
Dikutip dari Harian KOMPAS, Senin, 4 Agustus 2008 halaman 01.


Ada suatu masa ketika kita begitu galau akan lemahnya sisi permintaan, daya beli, dan daya dorong perekonomian. Data empiris menunjukkan, identifikasi itu tak sepenuhnya benar.
Melihat pertumbuhan konsumsi selama 10 tahun terakhir, sulit bagi kita membuktikan argumen tentang lemahnya daya beli. Kalau begitu, di mana masalah kita? Di sini pentingnya membaca laporan Economic Assessment of Indonesia 2008 yang diluncurkan Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) minggu lalu. Hal yang positif, Indonesia masuk kelompok ”negara-negara dengan keterlibatan yang ditingkatkan” atau enhanced engagement countries, bersama Brasil, India, China, dan Afrika Selatan. Indonesia kembali dalam radar screen.
Di sisi lain, laporan ini juga mengandung pesan: problem kita yang utama adalah sisi penawaran. Problem yang utama bukanlah daya dorong, tetapi daya dukung perekonomian.
Isu klasik yang disalahkan: iklim investasi, terutama di sektor industri manufaktur dan pertambangan. Kalau benar lemahnya investasi disebabkan oleh buruknya iklim investasi, mengapa hal yang sama terjadi di Malaysia, Thailand, dan Jepang? Bukankah ketiga negara itu iklim investasinya lebih baik?
Lebih menarik: ternyata rasio investasi terhadap produk domestik bruto (PDB) di Malaysia (21 persen) lebih rendah dibanding Indonesia (24 persen). Padahal, iklim investasi Malaysia lebih baik dibandingkan dengan Indonesia, China, atau India. Karena itu, kita tak bisa melihat iklim investasi sebagai penjelas utama. Iklim investasi hanya sebuah syarat perlu, bukan syarat cukup.
Selama ini, kita begitu percaya pada mantra bahwa penurunan investasi yang utama adalah investasi asing. Penghitungan dekomposisi Bank Dunia (2007) justru bicara sebaliknya: penurunan investasi di Indonesia, Korea, dan Malaysia ternyata didominasi oleh penurunan investasi swasta dan domestik.
Di Indonesia, dari 84 persen penurunan investasi swasta, 59 persen dari domestik. Dari 76 persen kontribusi penurunan investasi domestik, 17 persen dari publik, dan sisanya 59 persen dari swasta. Hal ini menarik karena soal kita lebih pada investasi domestik: baik publik maupun swasta.
Penurunan investasi swasta domestik selain disebabkan oleh iklim investasi dapat juga karena terganggunya aliran kredit (credit channel) dari perbankan ke sektor barang, yang terjadi karena problem informasi yang tak simetris antara bank dan sektor produksi sehingga menimbulkan masalah agency cost. Yang bisa dilakukan adalah memperbaiki informasi, misalnya melalui biro kredit.
Investasi domestik jelas tak terlepas dari perlunya investasi publik di dalam infrastruktur. Krisis ekonomi yang terjadi 10 tahun lalu praktis tak memungkinkan terjadi ekspansi perbaikan infrastruktur. Permintaan yang meningkat tak bisa dipenuhi karena listrik terbatas dan biaya logistik mahal. Akibatnya, daya dukung perekonomian menjadi terbatas.
Pertumbuhan ekonomi memang selalu di atas 6 persen sejak triwulan IV-2006, tetapi setiap kali akselerasi meningkat, kita cenderung menghadapi problem inflasi.
Studi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM-FEUI) menunjukkan elastisitas penyediaan listrik terhadap PDB 0,5-0,67 persen. Artinya kenaikan 1 persen penyediaan listrik akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi 0,5-0,67 persen. Artinya, untuk pertumbuhan ekonomi 7 persen dibutuhkan input berupa penjualan listrik 11-14 persen per tahun. Bandingkan dengan tingkat penggunaan listrik sekarang.
Di luar listrik, kita menghadapi buruknya infrastruktur pelabuhan dan jalanan. Yang tak kalah serius, hambatan sisi penawaran ini juga bisa membawa dampak pada kesenjangan.
Statistik industri berbicara: sebagian besar pengguna generator adalah perusahaan besar, sedangkan persentase penggunaan generator di perusahaan kecil dan menengah relatif kecil. Perusahaan kecil dan menengah lebih bergantung pada pasokan PLN. Hal ini logis karena penyediaan generator atau pembelian listrik dari perusahaan lain membutuhkan biaya yang lebih tinggi. Artinya, hambatan daya dukung tak hanya mengganggu pertumbuhan, tetapi juga membebani usaha kecil dan menengah.
Hambatan sisi penawaran juga tecermin dari pasar tenaga kerja yang kaku sehingga daya serap menjadi terbatas. Kekakuan ini yang menjelaskan mengapa elastisitas permintaan tenaga kerja Indonesia menurun.
Jika elastisitas peningkatan tenaga kerja 200.000-300.000 untuk 1 persen pertumbuhan ekonomi, untuk menyerap tenaga kerja baru dibutuhkan pertumbuhan ekonomi di atas 7 persen.
Jelas, ini tak mungkin segera tercapai. Yang bisa dilakukan adalah meningkatkan elastisitas penyerapan tenaga kerja kembali menjadi 400.000, bahkan lebih. Caranya? Kurangi kekakuan pasar tenaga kerja.
Agak ironis sebenarnya karena sampai paruh pertama 2008 masih terlihat kuatnya permintaan: penjualan sepeda motor, mobil, ritel, dan pertumbuhan PPN. Impor barang modal juga meningkat, pertanda perusahaan melakukan ekspansi. Namun, jika daya dukung terbatas karena listrik serta jalan dan pelabuhan tak memadai, pertumbuhan ekonomi akan terhambat.
OECD tampaknya mempunyai kegalauan yang sama tentang soal itu. Kegalauan soal lemahnya sisi penawaran.

Muhammad Chatib Basri
Pengamat Ekonomi